Rabu, 06 Maret 2013

Si Mugi Slamet

              Muft, iso ngrewangi monitoring sampe 13 maret g?  Kira-kira begitu SMS dari kapten Alifi, selaku koordinato RAIN (Raptor Indonesia) jogya. Sik bentar tak piker-pikir budal ora ora budal ora budal, akhirnya saya putuskan untuk berangkat. Iya mbak  bisa tanggal 1,2,3 maret siap
.
Karena suatu hal, saya berangkat  naik ke Turgo hari jum’at  1maret  jam 4 sore dari beskem biolaska. Turgo, terletak  bukit sebelah lereng selatan merapi.  Untuk sampai ke lokasi ini,memerlukan waktu kira-kira 45 menit sampai satu jam, dengan jarak tempuh kira-kira 20an KM dari pusat kota jogya. Dengan ditemani Omenselaluceria, saya melucur menuju TKP. Hujan rintik-rintik, jalanan yang licin membuat saya harus menurunkan kecepatan. Suasana dingin, sudah mulai terasa semenjak mulai baca tulisan tugu  “Selamat Datang di Desa Wisata Turgo”. Sesampainya disana sudah ada Bude, mbak Alifi, mas Hans, mas Arman dan Wahab. 
            Eeh saya kira terlalu bertele-tele dan panjang lebar kalau diceritain berurutan kayak SD aja,yang baru dapet pelajaran mengarang, yang harus pakai SPOK. Bosen ah.  Okelah kalau begitu, singkat cerita hari pertama pengamatan si Mugi Slamet (julukan elang  jawa yang direlease) jangan  tanya kenapa kok dinamain Mugi Slamet! Soalnya saya sendiri kurang tau pasti mengenai latar belakang kenapa kok di namai itu. He. Tapi kalau menurut Bude yang notabene sudah sejak release ada di sini, Ia bilang artinya kalau menurut bahasa jawa “Mugi” berarti “Semoga” dan Selamet berarti “Selamat” jadi kalau di gabung menjadi Semoga selamat dan bisa survive di alam bebas. 
             Nampaknya cuaca cerah, dihari pengamatan pertama saya, secerah anggrek-anggrek di kebun pak Musimin, di rumah pak Musiminlah kami transit. Ya, memang ditempat pak Musimim banyak terdapat anggrek, karena disini tempat budidaya sekaligus relokasi anggrek Merapi terutama lereng selatan. Hasil binaan Yayasan kanopi Indonesia dan Taman Nasional Gunung Merapi, kalau tidak salah namanya “Alami”. Yang menarik disini anggreknya bukan hanya sekedar budidaya bagi kebanyakan orang pada umumnya, namun juga sekalian dilengkapi nama ilmiahnya. Sangat cocok untuk belajar iden anggrek, terutama bagi yang masih baru kemarin sore belajar anggrek seperti saya ini. Apalagi disediakan juga buku panduan Identifikasi anggrek Merapi, karangan Mas sulistiono, terbitan Yayasan Kanopi Indonesia bekerjasama dengan Taman Nasional Gunung Merapi dan The Rain Forest Coffee.  Tapi sayang buku panduan tersebut belum bisa dikonsumsi public, karena  masih ada yang perlu direvisi. 
         Weeh oya tadi kan, mau cerita pengamatan hari pertama, kok malah ngalor ngidul maning he. Tapi Gpp, hehe, karena hari pertama memang saya beserta kawan-kawan pengamatan anggrek terlebih dahulu sebelum pengamatan si Mugi di mulai. He. Tidak sia-sia saya jauh-jauh dari negeri ngayogyakarto hadiningrat ke Turgo banyak mendapatkan ilmu. He (haha rodok lebai thitik ora popo) ya disini saya banyak mendapatkan list baru Anggrek. Berikut anggrek yang sebelunya belum tahu namanya sekaligus belum pernah nemuin di lapangan, maklum kuper pakai banget lagi. he :D


Rhynchostylis retusa

Apendicula alba

Gastrodia crispa

Liparis reedii

Dendrobium mutabile
              Malaxis kobi, malaxis kobi sedikit berbeda dengan yang saya temui di Ijen beberapa waktu yang lalu, pada bunganya eeh atau memang pas kebetulan saya nemuinnya beda fase diantara keduanya, entah masih bingung hehe. 
Malaxis kobi- Turgo merapi

Malaxis kobi-  Ijen Banyuwangi


















         Ya saya kira itu saja he, tambahan list baru saya he,padahal lho disana anggrek di sambiyayah. Nek akeh-akeh  nambah list malah mabok he. Eeh tadi kan mau cerita pengamatan si Mugi, malah ngalor ngidul lagi hehe :D  
           Hari pengamatan si Mugi, mendapatakan pemandangan yang luar biasa, si Mugi soaring dan sempet di mobbing Elang hitam (Ictinaetus malayensis) si penguasa Turgo. Namun sayang tidak terdomentasikan. Selain itu, ada pengalaman yang  lebih menarik, edannn waaauu lihat sekaligus bisa ambil gambarnya sendiri Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus) flock, dalam satu flock ada empat individu dan satu individu Elang Jawa (Nizaetus bartelsi), tapi bukan si Mugi. Pengalaman menarik soalnya memang, sebelumnya belum pernah yang kayak gini, apalagi bisa ambil gambar sendiri he. Maklum sebelumnya cuman denger cerita-certia aj he. Cerita kalau lihat raptor migran satu flock sak mbiyayah ki di Penggaron, Semarang atau di Bogor, Pernah sih melihat di Ponorogo pas waktu itu hunting bareng sidik, namun sayang hanya terdokumentasi lewat mata. He. Lalu bagaimana bisa nebak kok elang jawa yang terbang bersama sikep buka si Mugi?. Soalnya Elang jawa ini terbangnya tinggi setinggi terbang si Sikep Madu Asia, bahkan mereka malah sempet mobbing, Nah kalau si Mugi masak sih udah bisa terbang setinggi itu, padahal baru di release beberapa hari yang lalu, selian itu si Mugi mempunyai latar belakang merupakan Elang peliaraan dari kecil, jadi mana mungkin sudah seliar itu, lagipula masih memerlukan waktu untuk adaptasi untuk bisa soaring setinggi itu, apalagi sampai Mobbing, dan satu keutungan lagi berhasil  mendokumentasikannya hehe . 

Elang jawa dan Sikep Madu Asia sedang mobbing

Elang jawa si Mugi

flock Sikep Madu Asia

Sikep Madu Asia dan Elang Ular Bido
               Pada hari kedua, hasilnya tidak seheboh  pada hari pertama,  soalnya pada kebetulan kebagian pos kandang sapi bersama mas Hans,  yang notabene view nya agak jauh dari kadang habituasi.  Selain memang  kebetulan perjumpaan raptor jarang.  Saat temen-teman heboh lihat si Mugi  soaring di masing-masing posnya, kami hanya bisa mendengarnya kehebohan teman-teman melalui HT.  Saat teman-teman heboh lihat si Mugi, mas Asman kontak saya dan mas Hans.  Hans, Mufti jangan lupa pantu di sisi barat atau sisi Tritis barang kali ada, raptor, eeh nah pas saat itu kebetulan juga ada raptor lewat Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus). 
          Hari ketiga, cuaca cerah berharap si Mugi kembali terlihat berakftifitas, kebetulan saat itu saya bersama satu kelompok dengan Dini gandor yang berencana ke pos kandang habituasi. Namun setelah hampir 1 jam belum ada pergerakan, kami mencoba untuk nge track ke arah vegetasi pinus,  tempat terakhir teramati pada hari sebelumnya. di hutan dengan vegetasi pinus yang rapat mencoba clingak-clinguk ke atas berharap lihat si Mugi bertengger hehe. Ya sapa tahu. He. Langkah demi langkah, dari vegetasi  pinus beralih vegetasi yang agak heterogen menyusuri ke atas lewat jalan setapak belakang rumah pak Musimin. Tanjakan-tanjakan kami lalui, akhirnya sampailah di punggungan yang view nya bisa melihat pepohonan pinus dari atas, dan lagi berharap melihat si Mugi atau raptor yang lain melintas.  Namun lagi-lagi nihil he, katika sudah mulai bosan, ah nyari photo burung waelah. Eeh saat sedang asyik nyari angel buat mostret si Tulungtumpuk yang hanya terdengar suara aja, ada suara tidak wujudnya, kayanya demit saja he, tiba-tiba saja wahab, lalu di susul mas Hans dan Raden arif alfauzi heboh saling kontak lewat HT, kalau melihat si Mugi  di atas rumah pak musimin bahkan terlihat jelas markernya, wau terlihat sedang mobbing Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus), yah sayangnya saya terlambat peristiwa tersebut, karena saya harus turun terlebih dahulu, karena memang vegetasi yang rapat sehingga tidak bisa melihat ke atas. 

Reaksi:

0 komentar: