Kamis, 14 Maret 2013

Kilometer Nol Malioboro, Yogyakarta Kantong Biodiversitas Yang (Nyaris Terabaikan)

KM-0 Malioboro, Yogyakarta
          Malioboro dikenal sebagai tempat tujuan utama para wisatawan baik domestik maupun mancanegara ketika berkunjung ke  kota Yogyakarta.  Kota yang dikenal dengan kota pendidikan dan kota budayanya. Ya, Malioboro merupakan jantung kota Yogyakarta, tempat yang tidak pernah sepi, 24 jam non-stop. Tempat nongkrong kawula muda  saat malam hari, sekedar melepas penat ditengah-tengah kesibukannya. Tempat yang terkenal dengan pusat perbelanjaannya yang berjajar di sepanjang Jl.Malioboro. Ditempat ini juga dijumpai peninggalan-peninggalan bersejarah massa penjajahan Belanda. Mulai dari Istana Negara Gedung Agung, Benteng Vredeburg, Bank BNI, dan Kantor Pos Besar. Selain itu yang tidak kalah menariknya di kawasan ini juga dijumpai monumen Serangan Umum 1 Maret yang mengingatkan pengujung  pada  pelajaran sejarah. Keraton Yogyakarta yang menjadi pusat pemerintahan D.I.Yogyakarta juga dijumpai disana. Memang lengkap di Malioboro semua ada disana.
 
Sedang mendiskusikan hasil jepretan
         
Layang-Layang Asia 
         Disamping itu ternyata di kawasan yang dikenal dengan titik nol kilometer ini ada fenomena alam menarik . Fenomena yang terjadi setiap tahun, yang mungkin sebagian orang mengabaikannya. Di kawasan ini berdiri kokoh  lima pohon beringin (Ficus benjamina), empat pohon terdapat di dalam pagar Istana  Negara Agung tiga di sebelah selatan dan satu di sebelah utara. Satu pohon lagi terdapat di luar pagar, tepatnya di trotoar yang berfungsi sebagai peneduh bagi pejalan kaki. Di pohon-pohon inilah menjadi tempat bersinggah ribuan para penjelajah dari belahan bumi utara. Para penjelajah dunia yang menempuh ribuan kilometer. Ya, dipohon-pohon inilah ribuan burung Layang-Layang Asia (Hirundo rustica) yang singgah untuk menghabiskan musim dingin. Burung ini tersebar di seluruh dunia, berbiak di belahan bumi utara. Pada musim dingin mulai September sampai Maret setiap tahunnya bermigrasi ke selatan melalui Afrika, Asia, Asia Tenggara, Filipina dan Indonesia menuju Pulau Irian dan Australia (Mac.kinnon et all,2010).  Di Yogyakarta, tepatnya di kawasan titik nol kilometer tahun 1994-1995 pernah tercatat  sampai 11412 ekor oleh Yudha dkk (1996).  Ternyata pada tahun 2011-2012 mengalami kenaikan secara drastis  populasinya  mencapai 51.774 ekor. Hal ini terjadi kemungkinan seiring  dengan bertambahnya penduduk di bumi searah dengan berkurangnya lawan terbuka hijau di kawasan tertntu. Kawasan-kawasan yang sebelummnya tempat singgah burung-burung ini kemungkinan  sudah tidak ada. Sehingga mendorong ribuan burung ini memilih singgah di kawasan titik nol kilometer. Kawasan yang di anggap lebih aman dan cocok untuk disinggahi. 
          Ada berberapa jenis burung lain yang bermigrasi singgah di kawasan titik nol kilometer. Burung-burung ini salah satunya Jalak cina (Sturnus sturninus) dengan jumlah populasi  mencapai 2339 ekor (Joko, 2012). Burung ini berbiak di Himalaya dan Cina. Bermigrasi pada musim dingin ke Asia tenggara dan Sunda Besar salah satunya di kawasan ini.  Selain itu, ditemukan burung raptor (pemangsa) yang setiap tahun singgah di kawasan ini.  Burung dengan nama lokal alap-alap kawah (Falco peregrine) tersebar luas di dunia, merupakan pengunjung musim dingin dari Asia utara ke daerah pesisir dan dataran rendah di seluruh Sunda besar.  Burung dengan populasi dua individu ini, memanfaatkan Layang-Layang Asia (Hirundo rustica) sebagai makanannya. Burung dengan kebiasaan bertengger di tower polres ini, menunggu  santapan dipagi hari saat burung Layang-Layang Asia (Hirundo rustica) mulai keluar (04.30-06.00 WIB). Pagi menjelang siang burung migran ini berpindah ke Hotel Melia Pulosari, dengan kebiasaan bertengger di balkon sisi timur laut. Burung berpindah ke Hotel Melia Pulosari di asumsikan menunggu santapan, soalnya di sekitar hotel banyak warga yang memelihara burung merpati (Columba livia). Menurut warga setempat pernah mengusir karena burung pemakan daging ini pernah kepergok warga sedang makan burung merpati (Columba livia).      
Layag-Layang Asia
Selain burung migran, banyak di temukan juga beberapa jenis  burung penetap yang cukup umum dan agak jarang,  sperti  Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Cekakak Jawa ( Halcyon cyanoventris), Kapinis rumah (Apus affinis),  Punai Gading (Treron vernan)  Wallet linci (Collocalia linchi),  Bondol Peking (Lonchura punctulata), Bondol Haji (Lonchura  maja), Cangak Abu (Ardea cinerea), Cabai Jawa (Diaceum trochilleum), Bentet Kelabu (Lanius schah), Kacamata biasa (Zosterops palbebrosus), Kerak ungu (Acridotheres tristis), serta Kerak Kerbau (Acridotheres javanicus). Adanya perburuan liar dan pengusiran dengan menggunakan pemasangan balon di Gedung BNI memmbuat kawasan ini membutuhkan perhatian khuusu dari berbagai kalangan agar di massa depan kelestarian burung-burung tersebut tetap terjaga. 

Bahan bacaan : 
MacKinnon, J. Dkk. 2010.Burung-Burung di Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan. Burung Indonesia.Bogor.hlm:Biogeografi 15-17 
Setiyono, J. 2011. Populasi Migrasi Burung Jalak Cina (Sturnus sturninus) Di Malioboro Yogyakarta. Uin Suka Yogyakarta. 

Reaksi:

0 komentar: