Kamis, 01 Desember 2011

PENDADARAN TANPA PEMBANTAIAN MENINTING Pert. VIII BBC(Bionic Base Camp), 15 agust 2011

       “Pada jadi berangkat G ?” kira-kira begitulah pesan singkat dari mas untung masuk, saat itu kurang lebih pukul 15.30an” eeh avid juga dapat sms yang sama. Langsung aj tanpa basi-basi Q meluncur ke poliklinik, eeh ternyata temen-temen BIOLASKA dah pada kumpul di depan poliklinik, disana sudah ada ika koplo, mas untung, mas ari, tutut, nox ita, mas imam (A’im) dan avid. “hehe ma’ af telat soalnya di jalanan banyak kendaraan + uuangel melipat selimut hehe”. Tanpa basa- basi kita langsung meluncur menuju BBC (Bionic Base Camp). Kurang lebih perjalanan memakan waktu 20 menitan. Sesampainya di BBC sudah ada dedengkotnya Bionic beserta kawanannya sapa lagi klu G mas Imam Taufiqurrahman dkk. Selain itu disana sudah ada mbak sitta, randy, mas batak, mas tom, Eni. Eeh kira’in dah mulai dari tadi,, ehh jebulnya diskusinya baru mo mulai. Hehe berarti belum terlambat..
      Diskusi dibuka oleh mas Imam T dengan diawali sesi presentasi hasil peneletian skripsi oleh tiga presenter, pertama mbak sitta dengan judul “Pemilihan Habitat Mandar Besar (Porphyrio porphyrio) Di Pagak Purworejo” kedua mas zul gendut dengan judul “ Preferensi Habitat Serak Jawa (Tyto alba) Di D.I.Y dan yang ketiga mbak Nae dengan judul “Keanekaragam Jenis Burung Di Kawasan Hutan Mangrove Teluk Pampang Taman Nasional Alas Purwo”. Presentasi dibuat parallel karena mengingat waktu yang sudah mepet dengan buka puasa. Eeh walaupun di buat parallel ternyata waktunya belum cukup. Ketika mbak nae sedang asik menyampaikan hasil penenletiannya suara kumandang adzan magrib sudah terdengar, pertanda buka puasa bagi yang menjalankan. Usai sholat magrib,presentasi mbak nae dilanjut. Kemudian disusul dengan sesi tanya jawab. Pertanyaan pertama diajuakan oleh mas nurdin di tujukan kepada mas zul. “terkait denga habitat serak jawa, bahan-bahan materi sarang apa yang ditemukan dalam peneletian ini ?” kemudian lansung di jawab oleh mas zul” dalam peneletian ini di dalam sarang ada bahan dan materi yang berbeda dengan burung-burung yang lain, disini saya menemukan, bahan konstruksi bangunan berupa genting, kayu, eternit dan tembok;sedangkan materi dalam sarang berupa feses dan pellet. Dari situ kemudian muncul berbagai pendapat dan sharing hasil temuan-temuannya salah duannya mas batak dan pak pram (presiden idOU/Indonesian ornitologyst Union). Kemudian “ pertanyaan ditujukan kpada mbak nae terlontar dari faradlin mufti ” mbak mo Tanya, alasan kenapa pakai metode trasek, kok G yang lain, pakai TCS, atau mackinnon, atau yang lain ?” . kemudian langsung di jawab oleh mbak Nae” soalnya setelah saya beberapa kali survey kesana, klu misalnya pakai TCS atau yang lain kondisi disana tidak memungkinkan, Karena akses ke tengah mangrove sulit di jangkau manusia, sehingga saya lebih memilih menyisir tepi mangrove di sepanjang teluk Pampang”, awalnya peneletian ini tujuannya untuk menghubungkan komunitas burung dengan kondisi vegetasi” Kemudian dari sini timbul berbagai pendapat dari peserta diskusi yang lain, salah satunya pak pram. Beliau mengatakan “ jika dihubungkan dengan vegetasi, seharusnya dibandingkan dengan beberapa lokasi”. Kecendrungannya beberapa mahasiwa yang peneletian tentang burung untuk mahasiswa biologi, buru-buru ke konservasi, sebaiknya lebih ke aspek ekologi jangan buru ke konservasi ” .Diskusi ini cukup menarik ini, belum selesai disini, dilanjut dengan pertanyaan yang di ajukan oleh mas ari fauzi, pertanyaan di tujukan ke mbak sitta “ 1. Bagaimana pengaruh hewan introduksi yang mempengaruhi populasi burung mandar besar? Dan kalau di kawasan peneletian ini bgamana?.. yang lain lupa hehehe.. pertanyaan selanjutnya ditujukan kepada mbak Nae” 1. Apa peran burung di kawasan peneletian anda mbak ? yang lain lupa hehe. Kemudian dilanjut mas imam (A’im ) bertanya kepada mas zul klu G salah hehe, “ sperti yang disampaikan tadi, sarang burung serak jawa (Tyto alba) terdapat di genteng, eternit, dll. Lalu gman mas caranya untuk mengetahui materi sarang-sarang itu?, memanjat atau pakai CCTV atau bagaimana?.. pertanyaan demi pertanyaan terlontarkan kepada presenter. Saatnya presenter untuk menjawabnya, yang pertama mbak siita “ untuk pertanyaan nomor satu, klu di kawasan peneletian ini, ancaman populasi burung mandar besar (Porphyrio porphyrio) ini adalah gangguan penduduk sekitar. Dilanjut mbak nae menjawab pertanyaan” kalau untuk peran burung di kawasan ini, berperan dalam penyebaran benih-benih tumbuhan mangrove”. Kemudian giliran mas Zul menjawab pertanyaan, tapi sayangnya saya lupa jawabanya soalnya saat itu, pas saya kedep he jadi g tau.…heh.hehe.
Selain tanggapan-taggapan terkait dengan hasil peneletian di atas, Pak Pram selaku presiden idOU juga menyampaikan beberapa rencana program idOU kedepan. idOU merencanakan mengadakan pelatihan-pelatihan, untuk itu minta masukan dari temen-temen. Ada beberapa usulan yang terlontar saat pembicaraan pelatihaan adapun usulan-usulan ini antara lain : pelatihan sensus/ survey burung, ekologi, perilaku, habitat, molekuler, sampling darah, penyakit, birdbanding, dll. Disamping itu beliau menyampaikan ada asumsi yang mengatakan polusi akibat penggunakan pestisida mempegaruhi populasi walet. Untuk itu, perlu pelatihan-pelatihan guna untuk mengetahui lebih lanjut. Selain itu,program ini bertujuan untuk mewujudkan IIBS (Indonesia Birdbanding Scheme). Oya ada yang kurang beliau juga menyampaikan tentang buku Bird Ecology And Conservation A Handbook of Techniques karangan William J. Sutherland, Ian Newton, and Rhys E. Green. Penerbit Oxford University. Yyaa kurang lebih seperti itulah yang disampaikan pak pram, kalu ada yang kurang tolong di tambahi y. tpi klu ada yang lebih tolong balikin y.. hehe.
       “Ada pertanyaan lagi?” begitulah kata yang terlontar dari mas imam selaku moderator diskusi ini, oke kalau g ada pertanyan kita menginjak ke sesi berikutnya, sebelum saya mulai sharing-sharing ada beberapa informasi yang ingin saya sampaikan, untuk pertemuan bulan ini pak Karyadi Baskoro belum bisa hadir di hadapan temen, beliau bisa hadir pertemuan bulan depan dengan Tema “ “Menelusuri pustaka, menjadi detektif literasi” kata mas Imam. Pada pertemuan ini mas Imam selalu moderator menyampaikan pengalaman-pengalamannya selama menulis. Pertemuan MENINTING bulan ini bertemakan “ PENDADARAN TANPA PEMBANTAIAN”. Beliau mengatakan “ kalau temen-temen di dunia akademik, bagi yang sudah mengalami peneletian ada dosen pembibing, begitu juga pada hal ini (menjadi penulis jurnal), dsini juga ada dosen pembimbing atau reviewer. cuma bedanya kalau di kampus langsung bertatap muka dengan dosennya, kalau disini kita tidak tau sapa itu yang mereview, soalnya kita tidak bertatap muka langsung. Klu kita ingin mengirim sebuah tulisan,hendaknya cari reviewer minimal dua satu isi dan yang satunya bahasa. Yaaa kira-kira sperti itulah yang disampaikan mas Imam T.



Reaksi:

2 komentar: