Minggu, 27 Maret 2011

Jantung mati bisa hidup lagi


Bermula dari jantung yang melemah dan tidak seirama lagi dalam memompa darah, satu persatu organ tubuh presiden RI ke- 2 ini pun rontok dimakan usia. Kini tersisa fungsi otak dan pencernaan saja, selebihnya alat yang bekerja.
Seperti bencana rob, tim dokter kepresidenan smepat menjelaskan bahwa gara-gara darah yang cukup tidak terpompa, larutan lainnya dalam tubuh membanjiri pembuluh darah dan organ, terutama paru-paru.
Dalam kasus yang di alami presiden RI k-2 penguasa orde baru ini, cukup menarik. Jantung yang telah rusak,bahkan mati bisa dibuatnya berdenyut dan memompa darah kembali di laboratorium. “ harapan kami adalah kami akan menciptakan sebuah organ yang cocok untuk di cangkokkan ke dalam setiap tubuh manusia” ujar Doris Taylor  dari pusat perbaikan pembuluh darah jantung Universitas Minnesota. Peneletian melibatkan jantung dari tikus yang sudah menjadi bangkai. Hasil-hasil peneletian yang di muat dalam jurnal Nature Medicine  terbaru itu semakin memahat potensi terapi yang di tawarkan dari teknik sel tunas. Taylor dan koleganya, Harold  ott, dari rumah sakit umum maschusetts mengusung proses yang disebut deselurisasi dalam peneletiannya. Proses itu bertujuan mencuci atau menyingkirkan sel-sel lama organ di jantung bangkai tikus, dan hanya meninggalkan struktur kolagennya dasar yang masih utuh. Keduanya lalu menginjeksi jantung yang tinggal rangka mirip gelatin tersebut sel-sel jantung baru yang di ambil dai tikus bayi. Sel-sel itu di beri nama” makan” larutan kaya nutrisi dan  di jaga pertumbuhannya dalam laboratorium.
Empat hari kemudian, jantung itu ternyata jantung mulai berkontraksi kembali. Taylor dkk, lalu maju selangkah lagi dengan cara menanam alat pemacu jantung agar kontraksi itu terkoordinasi. Mereka juga menyambung  jantung dengan sebuah pompa sehingga jantung terisi fluida (cairan) serta membubuhi tekanan untuk mensimulasi tekanan darah. Delapan hari kemudaian, jantung mulai berkotraksi dan melakukan aktivitas pemompaan.  (di kutip dari tempo, edisi 15 januari 2008).

Reaksi:

0 komentar: