Rabu, 01 September 2010

Belajar birding di kampus UIN SUKA YOGYAKARTA


Oleh: Faradlina Mufti
kampus UIN SUKA yogyakarta
                 Sore hari itu tanggal 17 agustus 2010 bertepatan dengan memperingati hari kemerdekaan bangsa kita tercinta, kami ber-empat saya, Avid, Aini, dan Ruri belajar melakukan pengamatan burung di kampus Uin Suka tercinta.  Tepatnya 16.30 kita kumpul di depan laboratorium terpadu Fakultas Saintek UIN SUKA, padahal sebelumnya kita semua janjian habis sholat asar sekitar jam 15.30 an, eh ternyata malah molor kurang lebih satu jam. Kadang kiat menyadari Itulah kelemahan  bangsa Indonesia yang katanya terkenal dengan jam molornya. Walaupun waktu sudah menunjukan pukul 16.30 dan kelihatannya sudah sore banget, tidaklah mematahkan semangat kami untuk menggali potensi yang belum terungkap di kampus UIN SUKA. Rencana awal kita melakukan pengamatan dengan menggunakan binokuler. Binokuler ini rencana pingen pinjem laboratorium Biologi dengan kotribusi Rp 4000,00 perhari, namun Allah  SWT berkehendak lain. Kami pada saat merencanakan tidak ingat kalau hari itu hari libur, sehingga tidak jadi  untuk pinjem binokuler di laboratorium Biologi. Dengan berbekal kedua belah mata dan buku panduan burung-burung  Taman Nasional Baluran Situbondo Jawa Timur kami memulai pengamatan. Pengamatan di mulai dari depan laboratorium Fakultas Saintek ke arah barat. Pada saat awal- awal pengamatan kami sudah disuguhi kicauan-kicauan burung Cucak Kultilang (Picnonotus aurigaster) yang beterbangan  di sekitar cabang, ranting pohon Katapang (Terminalia catapanga), pohon Beringin (Ficus elastica)  dan gedung-gedung Fakultas Saintek. Saat itulah kami mulai mencatatnya. Sambil berjalan dengan tempo yang rendah  menuju ke arah barat kami melakukan pengamatan dan kadang diselingi bercanda ngobrol “ngalor-ngidul” tentang PKLlah, atau penelitian lah. Ketika sedang asik ngobrol sambil melihat-lihat, tepatnya di percabangan pohon Cemara Laut (Casuarina equisetifolia L.) terdengar suara kicauan golongan burung-burung kecil menarik perhatian kami.  Setelah diamati dengan seksama,, ooo ternyata burung Cabai Jawa (Dicaeum trochileum) dengan ciri khasnya burung kecil sekitar 8 cm lincah, agresif. Warna tubuhnya hitam dan merah cerah  mulai dari kepala punggung, tunggir untuk jantan, sedangkan untuk betina warna merah hanya terdapat bagian tunggir.  Tanpa kami sadari dan baru nyadar pada saat itu, ada dua burung yang terlewatkan    belum di catat padahal burung ini begitu familiar dengan kita, yaitu burung Gereja (Paser montanus) ada juga yang menamainya dengan Paser domesticus dengan alasan burung ini sudah terdomestikasi. Burung ini dengan ciri khasnya berukuran kurang lebih 10 cm, warna  coklat, suka hinggap di gedung- gedung kampus dan sering juga turun di permukaan tanah guna untuk cari makan. Sedangkan burung yang satunya adalah burung Walet Linchi (Chollocalia linchi ), burung ini  berwarna hitam kebiru-biruan, keberadaanya melimpah di kampus UIN SUKA. Burung ini aktif sepanjang hari, terbang tanpa lelah. Sambil mencatat dan mengamati percabangan pohon Cemara Laut (Casuarina equisetifolia L) disekitarannya terdapat burung Bondol Jawa (Lonchura leucogatroides)atau biasa disebut “manuk emprit”. Burung ini termasuk burung kecil karena ukurannya sekitar 11 cm, warna tubuh hitam, coklat bagian dada putih. Ketika pengamatan berlanjut menuju arah barat, sambil melihat-lihat ke atas tamapak beseliweran burung Bondol Haji (Lonchura maja). Burung ini hampir sama dengan burung Bondol Jawa (Lonchura leocugastroides, hanya bedanya terdapat pada bagian kepalanya berwarna putih.

Reaksi:

2 komentar: