Selasa, 24 Agustus 2010

perjalanan pulang


Tepatnya tanggal 21-23 agustus 2010, saya pulang ke Ponorogo. Waktu itu Avid dan Omen teman satu kelas saya kebetulan juga ikut ke Ponorogo. Seperti biasanya kalau saya pulkam ke ponorogo lewat Klaten, Kecamatan Bayat, Cawas , Sukoharjo, lalu wonogiri dan terakhir di Ponorogo. Saya bersama temen-temen berangkat pukul 14.00 dari jogya dengan alasan agar sampai dirumah tepat buka puasa. Namun Allah SWT berkendak lain, kita manusia hanya bisa berusaha dan Allah SWT yang menetukan. Ketika saya bersama temen-temen baru memasuki daerah Sukoharjo cuaca berubah begitu cepat hujan turun tidak terlalu deras. Sehingga tepaksa untuk mengurungkan niat kami untuk melajutkan perjalanan lalu kami berteduh di gubuk bekas warung. Saat itu tiba-tiba Avid bilang: biasane nek udan ngeneki (ora deres nanging kerep) awet lalu Q menangggapinya: iyo biasane, gek mendung putih kie biasane suwe. Setelah kurang lebih setengah jam kami berteduh hujan belum juga berhenti, tapi malah tambah deras. Lalu sekitar lima menit kemudian intensitas hujan sudah agak berkurang dari sebelumnya. Untuk itu kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan meski hujan masih turun. Ketika kumandang adzan Maghrib sudah terdengar, kami masih di perjalanan. Rencana saya tiba di rumah pas buka puasa. Namun Allah SWT berkehendak lain, seperti yang telah ditulis diatas kita manusia hanya bisa berusaha dan Allah SWT yang menetukan. Akhirnya kami memutuskan untuk berbuka puasa di warung terminal Jatisrono kab. Wonogiri. Setelah selesai berbuka puasa, kami melanjutkan perjalanan.
Sesampainya di rumah sekitar pukul 19.00 pas adzan Isyak. Seperti agenda biasanya setiap hari dibulan puasa kami melaksanakan ibadah sholat tarawih. Ketika perjalanan berangkat ke Ponorogo dan sesampainya di rumah memang tidak ada yang menarik atau berkesan. Namun ketika perjalanan ke jogya, ada sebuah fenomena yang cukup menarik.
Siang itu tanggal 23,Agustus pukul sekitar 14.00 kami memutuskan untuk balik ke jogya, dengan target sesampainya di jogya tepat buka puasa. Pada saat balik ke Jogya kami melewati rute yang sama. Ketika kami sampai daerah Klaten tepatnya di desa Japanan, kami melihat ada sebuah pohon pisang sedang di tanam di tengah jalan.tanya kenapa? bagi temen-temen yang peka Tentunya timbul pertanyaan, ada apa, mengapa ada pohon pisang di tanam di tengah jalan?. Waktu itu saya langsung teringat gambar di sebuah media massa yang cukup terkenal di Indonesia. Gambar di media massa tersebut memuat persis dengan apa yang saya lihat (lihat gambar di samping). Media massa tersebut dipaparkan bahwa fenomena ini merupakan kritik pemerintah dengan cara halus dan cerdas. Asal muasal mengapa pohon pisang ini di tanam ditengah jalan? Ternyata mereka para penduduk sekitar telah lama berteriak kepada pemeritah daerah setempat untuk memperbaiki jalan yana rusak. Namun apa kata para wakil rakyat yang duduk di kursi pemeritahan? Mereka selalu bilang”belum ada dana atau bulan depan atau tahun depan”. Selain itu, banyaknya jalanan berlubang ini memicu banyaknya angka kecelakaan. Misalya di daerah Klaten ini seperti yang di paparkan sebutlah mas bejo (nama samaran), menurutnya lobang ini sudah menyebabkan lebih dari 10 kejadian kecelakaan.

Reaksi:

0 komentar: