Kamis, 18 Maret 2010

Uji kualitas Air Parit di Sepanjang sub Inlet Sungai Gajah Wong Yogyakarta

Pendahuluan
A. Latar belakang
Air mempunyai peranan peting bagi kehidupan manusia, diantaranya untuk keperluan air minum, memasak, mandi, mencuci dan bahkan untuk pembakit listrik. Selain itu air juga dimanfaatkan oleh makhluk hidup lainnya. Tumbuhan meyerap air untuk membantu proses fotosintesis. Hewan memanfaatkan air untuk proses metabolisme. Sedangkan mikrobia memanfaatkan air sebagai nutrisi.
Adapun air untuk memenuhi kebutuhan sehari harus memenuhi standar yang telah ditentukan. Berdasarkan kualitasnya Air dibedakan menjadi dua yaitu air bersih dan air tercemar. Air bersih mempunyai ciri-ciri tidak berbau, tidak berwarna, tidak berbusa, Ph netral. Sedangkan air tercemar jika dilihat dari kondisi fisik berwarna, berbusa, dan berbau.
Air mempunyai sifat yang unik, yaitu dapat mempengaruhi organisme dan lingkungannya (Maizer, 2007). Air berperan penting dalam keseimbangan ekosistem, tetapi ketersediaan di berbagai habitat sangat bervariasi. Organisme air memanfaatkan air sebagai habitat, misalnya ikan hidup terendam dalam air. Habitat air tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternalnya. Keseimbangan ekosistem air mengalami permasalahan apabila tekanan osmosis intraselulernya tidak sesuai dengan tekanan osmosis air di sekitarnya (Maizer,2007). Kondisi di atas terjadi dapat disebabkan Karena air telah tercemar oleh limbah air.
Pencemaran merupakan penyimpangan dari keadaan normalnya. Misalnya pencemaran air sungai dimana suatu keadaan air tersebut telah mengalami penyimpangan dari keadaan normalnya. Menurut Wardhana, 1995 bahwa keadaan normal air masih tergantung pada faktor penentu yaitu kegunaan air itu sendiri dan asal sumber air. Pencemaran air dapat dijadikan sebagai indikator yang menentukan kualitas air. Pencemaran air dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu dari bahan organik, anorganik, zat kimia, dan limbah. Bahan buangan organik biasanya berupa limbah yang dapat terdegradasi oleh mikroorganisme, sehingga dapat meningkatkan perkembangan mikroorganisme. Sedangkan bahan buangan anorganik berupa limbah yang tidak dapat membusuk dan mikroorganisme tidak dapat mendegradasinya. Macam-macam bahan anorganik bersal dari logam-logam seperti : ion kalsium (Ca), ion magnesium (Mg), ion timbal (Pb), ion arsen (As), dan air raksa (Hg). Apabila logam-logam tersebut mencemari air, maka akan terakumuasi akibatnya sifat air menjadi sadah dan mengganggu kesehatan manusia. Bahan buangan yang bersal dari zat kimia dihasilkan dari sabun, bahan pemberantas hama, zat warna kimia, larutan penyamak kulit dan zat radioaktif. Dan yang terakhir adalah limbah, yaitu zat,energi dan atau komponen lain yang dikeluarkan , dibuang akibat sesuatu kegiatan baik industry maupun non-industri (Peraturan Daerah Tingkat I Bali 1988). Limbah yang dihasilkan dapat menimbulakan gas yang berbau busuk misalnya H2S dan ammonia (Kadek Diana, 2007).
Dewasa ini air menjadi masalah yang sangat penting, karena keberadaan air bersih manjadi barang mahal. Air yang dahulu melimpah akan kandungan mineral dan oksigen, kini telah banyak terjadi kasus pencemaran air. Pencemaran air ini disebabkan oleh ulah manusia yang kurang memperhatikan lingkungan. Diantara ulah manusia itu adalah kebiasaan manusia membuang sampah ke sungai, mengalirkan limbah MCK, pembuangan limbah pabrik dan pembuangan limbah rumah tangga. Selain itu sisa-sisa pupuk atau pestisida dari derah pertanian, limbah kotoran ternak, hasil kebakaran hutan dan endapan sisa-sisa gunung berapi meletus juga mengakibatkan terjadinya pencemaran air (Achmad Lutfi,2009). Pencemaran air ini dapat mengakibatkan menurunkan kualitas air yang telah ditentukan, sehingga tidak dapat untuk memenuhi kebutuhan. Salah satu pencemaran yang telah terjadi di parit sepanjang hotel Saphir sampai sub inlet sungai Gajah Wong Yogyakarta.
Sehingga perlu adanya uji kualitas air yang meliputi fisik, kimia dan uji mikrobia terhadap kualitas air di parit sepanjang hotel Saphir sampai sub inlet sungai Gajah Wong Yogyakarta.





B. Batasan masalah
1. Uji kualitas limbah cair di parit sepanjang Hotel Saphir sampai dengan Patahan Sungai Gajah Wong Yogyakarta
2. Uji kualitas air dilakukan pada uji kimia, fisika dan mikrobia.
C. Rumusan Masalah Penelitian
1. Bagaimana kualitas air di parit sepanjang Hotel Saphir sampai dengan sub Inlet Sungai Gajah Wong Yogyakarta, apakah masih pada ambang normal?
2. Apakah ada pengaruhnya kualitas air antara pagi dan siang hari?
D. Tujuan penelitian
1. Mengetahui kulitas air di parit sepanjang Hotel Saphir sampai dengan sub Inlet Sungai Gajah Wong Yogyakarta.
2. Mengetahui perbandingan kualitas air antara pagi dan siang hari
E. Manfaat Penelitian
1. Mengetahui kualitas air di selokan sungai Gajah Wong
2. Data yang diperoleh dapat menjadi refrensi untuk peneliti beikutnya dalam uji kualitas air
F. Hipotesa
1. Kualitas air di parit sepanjang Hotel Saphir sampai dengan sub Inlet Sungai Gajah Wong Yogyakarta di atas ambang normal.
2. Kualitas air di parit sepanjang Hotel Saphir sampai dengan sub Inlet Sungai Gajah Wong Yogyakarta antara pagi dan siang hari adalah sama.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Air
Air (H2O) merupakan sebagian unsur kimia yang berada dalam bentuk cecair pada tekanan biasa dan pada suhu bilik. Air merupakan suatu kebutuhan pokok bagi manusia. Air diperlukan untuk minum, mandi, mencuci pakaian, pengairan dalam bidang pertanian dan minuman untuk ternak. Selain itu, air juga sangat diperlukan dalam kegiatan industri dan pengembangan teknologi untuk meningkatkan taraf kesejahteraan hidup manusia. Namun dibalik manfaat-manfaat tersebut, aktivitas manusia di bidang pertanian, industri, dan kegiatan rumah tangga dapat dan telah terbukti menyebabkan menurunnya kualitas air. Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan tertentu (Efendi, 2003).
Upaya pemenuhan kebutuhan air oleh manusia dalam kehidupan sehari – hari dapat dengan mengambil air dari dalam tanah, air permukaan, atau langsung dari air hujan. Dari ke tiga sumber air tersebut, air tanah yang paling banyak digunakan karena air tanah memiliki beberapa kelebihan di banding sumber-sumber lainnya antara lain karena kualitas airnya yang lebih baik serta pengaruh akibat pencemaran yang relatif kecil. Akan tetapi air yang dipergunakan tidak selalu sesuai dengan syarat kesehatan, karena sering ditemui air tersebut mengandung bibit ataupun zat-zat tertentu yang dapat menimbulkan penyakit yang justru membahayakan kelangsungan hidup manusia (Suripin, 2002).
Sumber air merupakan salah satu komponen utama yang ada pada suatu sistem penyediaan air bersih, karena tanpa sumber air maka suatu system penyediaan air bersih tidak akan berfungsi. Menurut Suyono (1993), macam-macam sumber air yang dapat di manfaatkan sebagai sumber air minum adalah sebagai berikut:
1. Air laut
Mempunyai sifat asin, karena mengandung garam NaCl.Kadar garam NaCl dalam air laut 3 % dengan keadaan ini maka air laut tidak memenuhi syarat untuk diminum.

2. Air Atmosfer
Untuk menjadikan air hujan sebagai air minum hendaknya pada waktu menampung air hujan mulai turun, karena masih mengandung banyak kotoran. Selain itu air hujan mempunyai sifat agresif terutama terhadap pipa-pipa penyalur maupun bak-bak reservoir, sehingga hal ini akan mempercepat terjadinya korosi atau karatan. Juga air ini mempunyai sifat lunak, sehingga akan boros terhadap pemakaian sabun.
3. Air Permukaan
Air permukaan adalah air hujan yang mengalir di permukaan bumi. Pada umumnya air permukaan ini akan mendapat pengotoran selama pengalirannya, misalnya oleh lumpur, batang-batang kayu, daun-daun, kotoran industri dan lainnya. Air permukaan ada dua macam yaitu air sungai dan air rawa. Air sungai digunakan sebagai air minum, seharusnya melalui pengolahan yang sempurna, mengingat bahwa air sungai ini pada umumnya mempunyai derajat pengotoran yang tinggi. Debit yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan akan air minum pada umumnya dapat mencukupi. Air rawa kebanyakan berwarna disebabkan oleh adanya zat-zat organik yang telah membusuk, yang menyebabkan warna kuning coklat, sehingga untuk pengambilan air sebaiknya dilakukan pada kedalaman tertentu di tengah-tengah.
4. Air tanah
Air tanah adalah air yang berada di bawah permukaan tanah didalam zone jenuh dimana tekanan hidrostatiknya sama atau lebih besar dari tekanan atmosfer.
5. Mata air
Mata air yaitu air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan tanah dalam hampir tidak terpengaruh oleh musim dan kualitas atau kuantitasnya sama dengan air dalam.
B. Kualitas Air
Kualitas air dapat dilihat dari sifat fisika, kimiawi dan biologis. Air yang mempunyai kualitas baik harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :
1. Persyaratan fisika
a) Air tidak keruh
b) Air tidak berwarna
c) Rasanya tawar
Air yang terasa asam, manis, pahit atau asin menunjukan air tersebut tidak baik. Rasa asin disebabkan adanya garam-garam tertentu yang larut dalam air, sedangkan rasa asam diakibatkan adanya asam organik maupun asam anorganik. Air yang baik memiliki ciri tidak berbau bila dicium dari jauh maupun dari dekat. Air yang berbau busuk mengandung bahan organik yang sedang mengalami dekomposisi (penguraian) oleh mikroorganisme air.
d) Temperaturnya normal
Suhu air sebaiknya sejuk atau tidak panas terutama agar tidak terjadi pelarutan zat kimia yang ada pada saluran/pipa, yang dapat membahayakan kesehatan dan menghambat pertumbuhan mikro organisme.
e) Tidak padatan terlarut total (Total Dissolved Solid/ TDS) Air
Baku mutu air Tahun 2001 menetapkan bahwa kadar maksimum TDS yang diperbolehkan dalam penggunaan air golongan I, II dan III adalah 1000 mg/l, sedangkan untuk golongan IV sebesar 2000 mg/l.
f) pH (derajat keasaman)
Nilai pH air yang normal adalah sekitar netral, yaitu antara pH 6-7,5. Fluktuasi nilai pH pada air sungai dipengaruhi oleh berbagai hal antara lain:
(1) Bahan organik atau limbah organik. Meningkatnya kemasaman dipenga-ruhi oleh bahan organik yang membebaskan CO2 jika mengalami proses penguraian,
(2) Bahan anorganik atau limbah anorganik. Air limbah industri bahan anorganik umumnya mengandung asam mineral dalam jumlah tinggi sehingga kemasamannya juga tinggi,
(3) Basa dan garam basa dalam air seperti NaOH2 dan Ca(OH)2 dan sebagainya. (iv) Hujan asam akibat emisi gas. pH air hujan ini dapat mencapai 2 atau 3 berada jauh dibawah pH air hujan normal yaitu sekitar pH 5,6 (Siradz, 2008)
2. Persyaratan Kimia
a) Besi
Air yang mengandung banyak besi akan berwarna kuning dan menyebabkan rasa logam besi dalam air, serta menimbulkan korosi pada bahan yang terbuat dari metal.
b) Aluminium
Batas maksimal yang terkandung didalam air menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 82 / 2001 yaitu 0,2 mg/l. Air yang mengandung banyak aluminium menyebabkan rasa yang tidak enak apabila dikonsumsi.
c) Sulfat
Kandungan sulfat yang berlebihan dalam air dapat mengakibatkan kerak air yang keras pada alat merebus air (panci / ketel)selain mengakibatkan bau dan korosi pada pipa. Sering dihubungkan dengan penanganan dan pengolahan air bekas.
d) Nitrat dan nitrit
Pencemaran air dari nitrat dan nitrit bersumber dari tanah dan tanaman. Nitrat dapat terjadi baik dari NO2 atmosfer maupun dari pupuk-pupuk yang digunakan dan dari oksidasi NO2 oleh bakteri dari kelompok Nitrobacter. Jumlah Nitrat yang lebih besar dalam usus cenderung untuk berubah menjadi Nitrit yang dapat bereaksi langsung dengan hemoglobine dalam daerah membentuk methaemoglobine yang dapat menghalang perjalanan oksigen didalam tubuh.
e) Zink atau Zn Batas maksimal Zink yang terkandung dalam air adalah 15 mg/l. penyimpangan terhadap standar kualitas ini menimbulkan rasa pahit, sepet, dan rasa mual. Dalam jumlah kecil, Zink merupakan unsur yang penting untuk metabolisme, karena kekurangan Zink dapat menyebabkan hambatan pada pertumbuhan anak (Depkes, 2002).
f) COD (Chemical Oxygen Demand)
COD menunjukkan jumlah oksigen total yang dibutuhkan untuk mengoksi dasi bahan secara kimiawi, baik yang dapat didegradasi secara biologis (biodegradable) maupun yang sukar didegradasi secara biologis (non-biodegradable). Sedangkan BOD hanya menunjukkan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikrobia aerob untuk mengoksidasi bahan organik menjadi karbondioksida dan air. Oleh karena itu nilai COD pada umumnya lebih tinggi daripada nilai BOD. Nilai COD dapat digunakan sebagai ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organis yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut (DO) di dalam air (Nurdijanto, 2000).
g) Oksigen Terlarutkan (Disolved Oksigen /DO)
Oksigen dibutuhkan oleh hampir semua organisme untuk hidupnya. Pada kehidupan hewan, oksigen merupakan salah satu komponen utama di dalam proses metabolisme dan proses respirasi, namun kebutuhan akan oksigen pada setiap hewan bergantung pada jenis, stadia dan aktivitasnya. Oksigen terlarutkan di dalam air menunjukkan cadangan oksigen dalam air sungai tersebut. Oksigen dapat merupakan faktor pembatas dalam penentuan kehadiran makhluk hidup dalam air. Kadar oksigen terlarut dalam perairan alami biasanya kurang dari 10 mg/l. Oleh karena itu kadar oksigen terlarutkan dapat dijadikan ukuran untuk menentukan kualitas air. Penurunan kadar oksigen terlarut dalam perairan merupakan indikasi kuat adanya pencemaran terutama pencemaran bahan organik (Siradz, 2008).
h) Persyaratan mikrobiologis
Persyaratan mikrobiologis yangn harus dipenuhi oleh air adalah sebagai berikut.
(1) Tidak mengandung bakteri patogen, missalnya: bakteri golongan coli; Salmonella typhi, Vibrio cholera dan lain-lain. Kuman-kuman ini mudah tersebar melalui air.
(2) Tidak mengandung bakteri non patogen seperti: Actinomycetes, Phytoplankton colifprm, Cladocera dan lain-lain. (Sujudi,1995)
C. Pencemaran Air
Pencemaran adalah suatu penyimpangan dari keadaan normalnya. Jadi pencemaran air tanah adalah suatu keadaan air tersebut telah mengalami penyimpangan dari keadaan normalnya. Keadaan normal air masih tergantung pada faktor penentu, yaitu kegunaan air itu sendiri dan asal sumber air (Wardhana, 1995). Pencemar air dapat menentukan indikator yang terjadi pada air lingkungan. Pencemar air dikelompokkan sebagai berikut.
1. Bahan buangan organik
Bahan buangan organik pada umumnya berupa limbah yang dapat membusuk atau terdegradasi oleh mikroorganisme, sehingga hal ini dapat mengakibatkan semakin berkembangnya mikroorganisme dan mikroba patogen pun ikut juga berkembang biak di mana hal ini dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit.
2. Bahan buangan anorganik
Bahan buangan anorganik pada umumnya berupa limbah yang tidak dapat membusuk dan sulit didegradasi oleh mikroorganisme. Apabila bahan buangan anorganik ini masuk ke air lingkungan maka akan terjadi peningkatan jumlah ion logam di dalam air, sehingga hal ini dapat mengakibatkan air menjadi bersifat sadah karena mengandung ion kalsium (Ca) dan ion magnesium (Mg). Selain itu ion-ion tersebut dapat bersifat racun seperti timbal (Pb), arsen (As) dan air raksa (Hg) yang sangat berbahaya bagi tubuh manusia.
3. Bahan buangan zat kimia
Bahan buangan zat kimia banyak ragamnya seperti bahan pencemar air yang berupa sabun, bahan pemberantas hama, zat warna kimia, larutan penyamak kulit dan zat radioaktif. Zat kimia ini di air lingkungan merupakan racun yang mengganggu dan dapat mematikan hewan air, tanaman air dan mungkin juga manusia (Harmayani dan Konsukartha, 2007).
D. Standar Kualitas Air
Menurut peraturan pemerintah No. 20 tahun 1990, standar kualitas air di perairan umum dapat ditinjau secara fisika, kimia, mikrobiologis, dan radioaktivitas. Berdasarkan beberapa parameter tersebut, air digolongkan menjadi empat yaitu golongan A, B, C, dan D. (Terlampir)
Golongan A merupakan air yang dapat digunakan sebagai air minum tanpa pengolahan terlebih dahulu. Golongan B merupakan air yang digunakan sebagai bahan baku air minum melalui suatu pengolahan. Pada golongan C, air digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan. Sedangkan golongan D , air digunakan untuk pertanian dan usaha perkotaan, industry dan PLTA. (Depkes, 2002)
Banyaknya suatu bakteri seperti E. coli dan coliform dalam air menunjukkan kualitas air yang dimiliki. Menurut Depkes (2002), semakin banyak jumlah bakteri E. coli dan coliform, kualitas airnya semakin menurun. (Terlampir)


BAB III
METODE PENELITIAN
A. Alat dan Bahan
Alat Bahan
1. Erlenmeyer 1. Air sampel
2. Tabung pengukuran CO2 2. MnSO4
3. Gelas beker 3. KOH-KI
4. Termometer g/alcohol 4. Air aquades
5. Secchi disk 5. Na2S2O3
6. pH meter 6. Indikator pp
7. Tabung reaksi 7. Larurtan NaOH
8. Buret 8. H2 SO4 pekat
9. Tabung Durham 9. Yeast extrack
10. Kawat Inokulasi 10. NaCl
11. Mikroskop 11. Pepton atau tripton
12. Spektofotometer 12. Media LTB
13. Inkubator 13. BOP ( Bromcresel purple )
14. Erlenmeyer 14. Alkohol
15. Tabung pengukuran CO2 15. Air sampel
16. Gelas beker 16. MnSO4
17. Termometer g/alcohol 17. KOH-KI


B. CARA KERJA
1. Pengamatan kualitas air secara kimia
a. Pengukuran DO (Dissolved Oxygen ) dengan metode Micro winker
Ambillah air sampel yang akan di ukur sebanyak 40cc dan masukkan kedalam Erlenmeyer, kemudian tetesi dengan MnSO4 ( 480 g MnSO4. 4H2O dalam 1 liter akuades ) dan KOH-KI (700 g KOH dan 150 g KI dalam 1 Liter akuades ) masing-masing sebanyak 8 tetes, di goyang perlahan dan akan terbentuk endapan coklat. Masukkan larutan H2SO4 pekat sebanyak 5 cc lewat dinding Erlenmeyer di goyang berlahan, sehingga endapan coklat akan hilang dan warna air sempel akan berubah menjadi kuning.
Tambahkan air sampel ke dalam Erlenmeyer , sehingga volume menjadi 50 cc dan didiamkan selama 10-15 menit. Setelah itu titrasi dengan larutan NA2S2O3 ( 0,025 N ) (titrasi ), sehingga warna berubah menjadi kuning pucat. Tetesi dengan indikator amilum sebanyak 8 tetes dan warna akan berubah menjadi biru tua. Titrasi kembali dengan larutan NA2S2O3 (titrasi 2 ), sehingga warna biru tepat hilang ( catat volume titran/jumlah skala yang digunakan dalam titrasi 1 dan 2.
Jalannya reaksi
MnSO4 + 2 KOH Mn (OH )2 + K2SO4 (1a)
Mn (OH )2 + ½ O2 MnO2 + H2O (1b)
MnO2 + KI + 2 H2O Mn (OH)2 + I2 + 2KOH (2)
Ph rendah
I2 + 2S2O32 S4O6- + 2I- (3)
Oksigen dalam sempel akan mengoksidasi MnSO4 yang ditambahkan kedalam larutan dalm keadaan alkalis, sehingga teerjadi endapan MnO2 ( reaksi 1). Dengan penambahan asam sulfat dan kalium iodide maka akan di bebaskan iodine yang ekuivalen dengan oksigen terlarut ( reaksi 2). Iodin yang di bebaskan tersebut dianalisa dengan metode titrasi iodometris, yaitu dengan larutan standar tiosulfat dengan indikator amilum ( reaksi 3) ( Alaert dan santika 1987)


Kadar DO =
Jumlah skala X 0, 04 ppm ( mikroburet 100 skala)
Jumlah skala X 0, 05 ppm ( mikroburet 80 skala)

b. Pengukuran CO2 bebas dengan metode Mocro Winkler
Diambil air empel sebanyak 20 cc dan dimasukkankedalam tabung pengukur CO2. Ditetesi dengan indicator pp (0,035%) sebanyak 3 tetes, apabila berwarna merah berarti tidak ada CO2bebas dan pekerjaan dihentikan.
Apabila air sempel tetap (tidak timbul warna merah muda ) dilanjutkan dengan titrasi dengan larutan NaOH 0,02N, sehingga timbul warna merah muda.Catat warna NaOH yang digunakan.
Kadar CO2 bebas=
Volume titran x 0,5 ppm (mikroburet 100 skala)
Volume titran x 0,625 ppm (mikroburet 80 skala)

2. Pengukuran Kualitas air secara fisik
1. Pengukuran PH
Diambil air sampel dan dihituang kedalam gelas baker sebatas tanda yang ada di PH-meter.Masukan PH dan ditekan tombil PH-meter, ditunggu sampai anggka konstan . Jangan dibalik posisi PH-meter setelah memakai, karena air dapat masuk dan PH-meter dapat rusak.
2. Pengukuran susu air
Pengukuran suhu air dengan menggunakan thermometer Hg/alcohol, dengan cara membenamkan thermometer kedalam air, pembacaan sekala disaat thermometer masih didalam air.
3. Pengamatan kekeruhan air
Penagamatan kekeruhan air dapat menggunakan secchi disk,dengan cara menenggelamkan dalam perairan sampai batas tidak terlihat.
3. Pengukuran kualitas air secara mikrobiologi
1. Penentuan kualitas koliform dilakukan dengan 15 tabung ( seri 5-5-5 ).
2. Medium yang digunakan adalah BCP (Brom Cresol Purple) masing-masing tabung berisi 0,5 ml,1ml, dan 1 ml dilengkapi dengan tabung Durcham dalam posisi terbalik.
3. Untuk pengujian yang menggunakan 15 tabung,pada 5 seri tabung pertama diisi 10 ml sampel air, 5 seri tabung kedua diisi dengan 1 ml sampel air, dan 5 seri tabung ketiga diisi dengan 0,1 ml sampel air.
4. Semua tabung reaksi kemudian diinkubasi pada inkubator pada suhu 370C. Setelah masa inkubasi 1-2 x 24 jam diamati terbentuknya gas(gelembung udara pada tabung Durcham)dan asam (media menjadi keruh).
5. Jika terdapat gelembung udara, keruh, dan warna kuning pada tabung durham maka menunjukkan adanya bakteri E.coli.
6. Analisis dilakukan dengan metode MPN (Most Probable Number).


Daftar pustaka
  • Achmad Lutfi. 2009.Sumber Dan Bahan Pencemar Air
  • Anonim, 1988. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 16 Tahusn 1988, Tentang Pengawasan dan Penaggulangan Pencemaran Lingkungan Oleh Limbah, Denpasar, Bali.
  • Depkes. 2002. Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum/Air Bersih. Jakarta.
  • Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
  • Harmayani, Kadek Diana dan I. G. M. Konsukartha. 2007. “Pencemaran Air Tanah Akibat Pembuangan Limbah Domestik Di Lingkungan Kumuh’. Jurnal Permukiman Natah. Denpasar : Universitas Udayana. Vol, 5. NO. 2 Agustus 2007 : 62 – 108
  • Nahdi, M. S, dan Solikhah J .2007.Biologi Umum.Yogyakarta: Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  • Nurdijanto, 2000. Kimia Lingkungan. Pati: Yayasan peduli Lingkungan
  • Siradz, Syamsul A., dkk. 2008. “Kualitas Air Sungai Code, Winongo dan Gajahwong, Daerah Istiewa Yogyakarta”. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 8,. No. 2 (2008) p: 121-125
  • Sujudi. 1995. Mikrobiologi Kedokteran (Edisi Revisi). Jakarta: Bina Rupa Aksara
  • Suripin, 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Yogyakarta : Andi Offset.
  • Suyono, 1993. Pengelolaan Sumber Daya Air. Fakultas Geografi Universitas
  • Wardhana, W.A., 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan, Yogyakrta : Andi Offset Yogyakarta
  • Widiyanti, N.L.P.M. Analisis Kualitatif Bakteri Koliform Pada Depo Air Minum Isi Ulang di Kota Singaraja Bali. Bali : P-MIPA IKIP Negeri Singaraja

0 komentar: