Rabu, 18 November 2009

biogas

Pembuatan biogas dari kotoran




Pendahuluan
Energi merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan kita. Energi dapat berasal matahari, fosil-fosil yang telah melapuk, tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Energi ini di gunakan untuk memasak, penerangan. Untuk keperluan yang lebih besar misal digunakan pengolahan industri.
Berdasarkan hasil kajian Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tentang kondisi energi di Indonesia, jika tidak ada eksplorasi baru, menurut kalkulasi ESDM cadangan minyak kita hanya cukup untuk 18 tahun lagi. Gas 60 tahun dan batu bara 150 tahun (KOMPAS, 23 Juni 2005)
Upaya penghematan energi terus digalakkan dari bahan bakar. Karena semakin menipisnya cadangan minyak kita. Dan semakin bertambahnya penduduk di dunia khususnya di negara kita. Sehingga merupakan suatu hal yang lazim apabila kebutuhan minyak bumi semakin meningkat. Namun di sisi lain harga masih menjadi pertimbangan utama dan ditambah semakin melambungnya harga BBM.
Beralih dari masalah energi disamping itu. Limbah masih menjadi masalah yang cukup serius dalam kurun waktu terkhir ini.Baik limbah rumah tangga, limbah pabrik, maupun limbah dari kegiatan usaha hewan ternak. Limbah rumah tangga meliputi limbah dapur dan limbah manusia(tinja manusia). Karena limbah-limbah ini akan menimbulkan berbagi masalah. Masalah-masalah itu antara lain penyakit, banjir,polusi, bau yang tidak sedap dan bahkan sekarang yang lagi “booming” yaitu perubahan iklim. Namun kita tidak membahas sampai sejauh itu, melainkan kita akan sedikit menguraikan solusi dari masalah tersebut. Yakni dengan biogas.
Dengan biogas masalah-masalah diatas akan segera teratasi asalkan melalui proses pembuatan yang mengikuti prosedur yang benar. Dengan biogas diibaratkan sebuah peribahasa sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Artinya dengan biogas dampak dari bau yang tidak sedap yang ditimbulkan dari sampah-sampah rumah tangga dan dari limbah hewan ternak akan segera teratasi. Karena biogas selain sebagai energi alternatif, zat sisa dari proses pembuatan biogas juga berfungsi sebagai pupuk organik.



BAB I
Pengertian dan sejarah biogas
Biogas atau Biomassa adalah energi alternatif paling siap untuk diolah menjadi sumber energi yang jumlahnya banyak dan berada di sekitar kita dan ramah lingkungan. Tumbuh-tumbuhan, sampah organik dan kotoran hewan dapat menghasilkan biogas yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi pengganti minyak, gas, kayu bakar dan batu bara. Biogas merupakan sumber enegi yang bisa diperbarui (renewable) sehingga tidak perlu ada kekhawatiran akan semakin menipisnya persediaan sumber energi (Nurandani, 2008).
Biogas adalah gas yang berasal dari penguraian bahan-bahan organik dengan bantuan bakteri pada proses anaerob (kedap cahaya dan langka/non oksigen). Kandungan biogas adalah 60% CH4 (Metana); 38% CO2 (Karbon Dioksida) serta 2% campuran Nitrogen (N2); Oksigen (O2); Hidrogen Sulfida (H2S); Amoniak (NH3) serta Hidrogen (H2).(Anonim,2009)
Biogas merupakan wujud lain dari pemafaatan gas biomassa. Biogas menjadi salah satu elternatif energi terbarukan dan sangat mungkin didesetralisasikan hingga pedesaan, bahkan ke rumah-rumah.Merupakan hasil fermentasi dari kotoran organik yang menghasilkan gas metan(CH4).(Rama, 2007).
Kebudayaan Mesir, China, dan Roma kuno diketahui telah memanfaatkan gas alam ini dengan cara dibakar untuk menghasilkan panas. Namun, orang pertama yang mengaitkan gas bakar ini dengan proses pembusukan bahan sayuran adalah Alesandro volta(1776) sedangakan Wilia Henry pada tahun 1806 mengidetifikasi gas yang dapat terbakar tersebut sebagai methan(CH4). Becham(1868), Louis pasteur dan Tappeiner(1882), memeperlihatkan asal mikrobiologis dari pembetukan methan.
Akhir abad ke-19 ada beberapa riset dalam bidang ini dilakukan Jerman dan Perancis melakukan riset beberapa unit pembangkit biogas dengan memanfaatkan limbah pertanian pada massa antara dua perang dunia. Selama perang dunia II banyak petani inggris dan benua Eropa yan membuat digester kecil untuk menghasilkan biogas yang digunakan untuk menggerakkan traktor. Karena harga BBM semakin murah dan mudah untuk mendapatkannya. Pada tahun 1950-an pemakaian biogas di Eropa ditinnggalkan. Di negara-negara berkembang juga demikian karean harga energi yang murah dan selalu tersedia. Ini memebuat biogas kurang berkembang.
Biogas bukanlah teknologi baru. Sejumlah negra telah mengplikasika puluhan tahun lalu, seperti Rusia dan Amerika Serikat. Negara yang populasi ternaknya besar, seperti Amerika Serikat,India, Taiwan, China dan Korea telah memanfaatkan kotoran ternak sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar. Di benua Asia, India merupakan negra pelopor dan pengguna energi biogas sejak masih dijajah inggris. Kegiatan produksi biogas di India dilakukan sejak abad ke-19. Alat pencerna anaerobik pertama di bangun di India pada tahun 1900. Bahkan negara tersebut memiliki lembga khusus yang meneliti pemanfaatan limbah kotoran ternak yang disebut Agriculture Research Institute dan Gobar Gas Research Station. Sementara di negara kita baru mulai mengadopsi teknologi pembuatan biogas awal tahun 1970-an.

Gambar 1.1 contoh digester
http://hanya-kutipan.blogspot.com/2009/05/membuat-biogas-dari-kotoran-sapi.html


Negara berkembang lainya, seperti China, Filipina , Korea, Taiwan dan Papua Nugini telah melakukan berbagai riset dan pengembagan alat pembangkit gas bio dengan prinsip yang sama, yaitu menciptakan alat kedap udara dengan bagian- bagian pokok terdiri atas
pencerna(digester) lubang pemasukan bahan baku dan pengeluaran lumpur sisa hasil pencernaan serta pipa penyaluran gas methan dapat digunakan untuk menggerakan turbin yang menghasilkan energi listrik, menjalankan kulkas, mesin tetas, traktor, dan mobil. Secara sederhana , gas methan dapat digunakan untuk keperluan memasak dan penerangan menggunakan kompor gas, seperti halnya LPG.(Rama,2007)
















BAB II
Biogas Dari Bahan Limbah
Energi biogas bisa diperoleh dengan memproses limbah bio atau biomassa di dalam alat kedap udara yang disebut digester. Limbah dapat berupa kotoran ternak seperti yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, bahkan tinja manusia, sisa-sisa panen seperti jeram, sekam,serta daun-daunan sortiran sayur-sayuran dan bahan organik lainnya. Namun sebagian besar terdiri atas kotoran ternak. Maklum, selain menghasilkan daging telur, susu dan kulit. Usaha peternakan juga menghasilkan produk ikutan dan limbah. Limbah ternak merupakan sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan , seperti usaha pemeliharaan ternak rumah pemotangan hewan, dan pengolahan produk ternak. Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti urine, feses, sisa makanan , embrio, kulit telur, lemak, darah bulu kuku, tulang, tanduk, dan isi perut.
Pada perternakan kecil, limbah tidak begitu menjadi masalah. Jumlah limbah yang sedikit bisa ditangani dengan mudah. Berbeda denagan usaha peternaka dengan skala besar dan berskala intensif, limbah yang dihasilkan akan banyak. Jika pengelolaanya tidak dilakukan secara baik bisa berakibat buruk. Sebagai gambaran, seekor sapi dengan berat 454 kg akan menghasilkan 30 kg limbah feses dan urine setiap hari. Kita bisa membayangkan berapa banyak limbah yang dihasilkan jika 100 ekor sapi yang diternakan, yaitu limbahnya mencapai 3 ton per hari. Jumlah yang sangat besar. Keberadaan limbah menjadi masalah yang serius. Masyarakat di sekitar peternaka akan terganggu. Bukan saja yang tidak sedap, tetapi keberadaanya juga mencemari lingkungan, menganggu pemandangan, dan bisa menyebabkan penayakit.
Selama ini, limbah berupa feses dan urine banyak di manfaatkan sebagai pupuk oleh sebagian besar peternak. Namun, kebanyakan mereka langsung membawanya ke kebun tanpa melakukan pengomposan terlebih dahulu. Padahal fesea tersebut masih bersifat panas dan bisa mengganggu pertumbuhan tanaman. Dari kebiasaan tersebut sebenarnya kta bisa mengembangkan intalasi biogas. Dengan instalasi biogas ini, peternak akan mendapatkan gas sebagai bahan bakar pupuk organik padat dan pupuk organik cair dari suatu fermentasi bahan organik dalam digester biogas yang dibangun.
Untuk menjadi gas, limbah ternak harus diuraikan terlebih dahulu. Penguraian limbah ternak sama dengan proses penguraian biomassa. Sejauh ini ada tiga proses penguraian biomassa yang umum dikenal. Pertama, hidrolisa yaitu penguraian senyawa rantai panjang, seperti lemak da protein untuk menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Kedua, proses pembentukan gas methan. Ketiga, menghasilkan biogas. Gas methan terbentuk karena proses fermentasi secara anaerobik(tanpa udara) oleh bakteri methan atau yang disebut juga bakteri anaerobik dan bakteri biogas yang menguraikan sampah-sampah mengandung bahan organik(biomassa). Dari proses tersebut akan terbentuk gas methan(CH4) yang apabila dibakar dapat menghasilkan energi panas. Seperti gas elpiji, biogas mudah terbakar. Sebetulnya, di tempat –tempat tertentu proses ini bisa terjadi secara alami sebagaimana peristiwa leadakan gas yang terbentuk di bawah tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Akhir(TPA) Leuwigajah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Dalam Digester bakteri methan mengolah limbah bio atau biomassa untuk menghasilkan gas methan. Dengan pipa yang di dedesain sedemikian rupa, gas tersebut bisa dialirkan ke kompor yang terletk di dapur.gas tersebut dapat digunakan untuk berbagi keperluan, termasuk memasak. Biogas yang dihasilkan dengan mencampur limbah yang sebagian besar terdiri atas kotoran ternak dengan potongan-potongan kecil sisa-sisa tanaman, seperti jerami dan sebagainya dengan air yang cukup banyak. Untuk pertama kali dibutuhkan waktu kurang lebih dua minggu sampai satu bulan sebelum dihasilkan gas awal.
Untuk bisa memanfaatkan teknologi ini, pada awal diperlukan biaya membangun pembangkit(digester) biogas yang relatif besar bagi pendudukan pedesaan. Namun, sekali berdiri,alat tersebut dapat digunakan dan dihasilkan selama bertahun-tahun.pembangkit ukuran 8m3 ,cocok bagi petani yang memiliki 3 ekor sapi, 8 ekor kambing atau 100 ekor ayam. Dengan catatan harus ada sumber air yang cukup dan limbah tanaman sebagai pelengkap biomassa setiap unit yang diisi 80 kg kotoran sapi yang di campur 80 liter air dan potongan limbah lainnya dapat menghasilkan1 m3biogas yang dapat digunakan untuk memasak dan penerangan. Biogas cocok dikembangkan di daerah yang memilki biomassa melimpah, terutama sentar produksi padi dan ternak di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Pusat kegiatann lain, seperti rumah ptong hewan (RPH), pasar, Tempat Peambuangan Sampah Akhir(TPA, industri makanan (tahu, tempe, ikan pindang, brem, susu, dan rertoran)dan juga runmah tangga (limbah domestik/tinja), juag berpeluang menghasilkan biogas . pembangkit biogas juga cocok di bangun untuk peternakan sapi perah atau peternakan ayam dengan mendesain pengaliran tinja ke dalam digester . (Rama,2007)



















BAB III
Cara Pembuatan Biogas


Gambar 2.1
Trubus edisi juni 2008/XXXIX
Lampu pijar kotoran sapi

Semakin menipisnya cadangan minyak bumi serta semakin tercemarnya ekologi lingkungan hidup) menjadikan banyak kalangan berinisiatif mengembangkan energi terbarukan sekaligus ramah lingkungan. Mendorong masyarakat untuk memanfaatkan limbah orgnik menjadi biogas.(Anonim,2009)
Pembuatan dan penggunaan biogas sebagai energi seperti layaknya energi dari kayu bakar, minyak tanah, gas, dan sebagainya sudah dikenal sejak lama, terutama di kalangan petani Inggris, Rusia dan Amerika Serikat. Sedangkan di Benua Asia, tercatat negara India sebagai pelopor dan pengguna energi biogas yang sangat luas, bahkan sudah disatukan dengan WC biasa(Dhiya,2009)



Berdasarkan gambar 2.1 ilustrasi diatas hasil sampingan dari gas methan. Dimana gas methan bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari sebagai energi alternatif. Misalnya saja buat menyalakan lampu. Disamping itu juga menghasilkan pupuk organik. Adapun langkah-langkah pembuatan biogas sebagi berikut:
1. yang pertama dilakukan adalah menyediakan wadah atau bejana untuk mengolah kotoran organik menjadi biogas. Kalau hanya diperuntukkan secara pribadi, cukup menggunakan bak yang terbuat dari semen yang cukup lebar atau drum bekas yang masih cukup kuat. Selain itu perlunya kesediaan kotoran hewan (baik sapi maupun kambing) yang merupakan bahan baku biogas. Kalau sulit mencari kotoran hewan, maka percuma aja. Untuk itu diperlukan survey terlebih dahulu. Atau kalau mau sedikit niat, septik tank bisa dimanfaatkan seperti yang dilakukan di India.
2. Proses kedua adalah mencampurkan kotoran organik tersebut dengan air. Biasanya campuran antara kotoran dan air menggunakan perbandingan 1:1 atau bisa juga menggunakan perbandingan 1:1,5. Air berperan sangat penting di dalam proses biologis pembuatan biogas. Artinya jangan terlalu banyak (berlebihan) juga jangan terlalu sedikit (kekurangan).
3. Suhu selama proses berlangsung, karena ini menyangkut keoptimalan hidup bakteri pemroses biogas antara 27–28 derajat celcius. Dengan temperatur itu proses pembuatan biogas akan berjalan sesuai dengan waktunya. Tetapi berbeda kalau nilai sushu terlalu rendah (dingin), maka waktu untuk menjadi biogas akan lebih lama.
4. Kehadiran jasad pemroses, atau jasad yang mempunyai kemampuan untuk menguraikan bahan-bahan yang akhirnya membentuk CH4 (gas metan) dan CO2. Dalam kotoran kandang, lumpur selokan ataupun sampah dan jerami, serta bahan-bahan buangan lainnya, banyak jasad renik, baik bakteri ataupun jamur pengurai bahan-bahan tersebut didapatkan. Tapi yang menjadi masalah adalah hasil uraiannya belum tentu menjadi CH4 yang diharapkan serta mempunyai kemampuan sebagai bahan bakar.
5. Untuk mendapatkan biogas yang diinginkan, bak penampung (bejana) kotoran organik harus bersifat anaerobik(kedap udara). Dengan kata lain, tangki itu tak boleh ada oksigen dan udara yang masuk sehingga sampah-sampah organik yang dimasukkan ke dalam bioreaktor bisa dikonversi mikroba. Keberadaan udara menyebabkan gas CH4 tidak akan terbentuk. Untuk itu maka bejana pembuat biogas harus dalam keadaan tertutup rapat.
6. Setelah proses ini selesai, maka selama dalam kurun waktu 1 minggu didiamkan, maka gas metan sudah terbentuk dan siap dialirkan untuk keperluan memasak.(Dhiya,2009)
Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memanfaatkan biogas. Seperti misalnya sifat biogas yang tidak berwarna, tidak berbau dan sangat cepat menyala. Karenanya kalau lampu atau kompor mempunyai kebocoran, akan sulit diketahui secepatnya. Berbeda dengan sifat gas lainnya, seperti elpiji, maka karena berbau akan cepat dapat diketahui kalau terjadi kebocoran pada alat yang digunakan. Sifat cepat menyala biogas, juga merupakan masalah tersendiri. Artinya dari segi keselamatan pengguna. Sehingga tempat pembuatan atau penampungan biogas harus selalu berada jauh dari sumber api yang kemungkinan dapat menyebabkan ledakan kalau tekanannya besar.(Dhiya,2009)










BAB IV
Belajar Dari Pengalaman Orang Lain
Pada bab sebelumnya telah di bahas tentang bagaimana langkah-langkah membuat biogas. Pada bab ini kita mencoba belajar dari pengalaman orang lain.
1. Abdul munif
Seperti yang dilakukan Abdul Manif, petani berusia 52 tahun ini setiap paginya selalu membersihkan kandang dan mengumpulkan kotoran dua ekor ternak sapi miliknya. Sejak mahalnya harga BBM sekarang, Abdul Manif kini menyiasatinya dengan cara memproduksi bio gas sendiri sebagai pengganti minyak tanah untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Selain membutuhkan tenaga yang esktra, cara pembuatan bio gas juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencobanya. Setelah kotoran ternak berhasil dikumpulkan dan dicampur dengan air, proses selanjutnya yakni membuat lubangan penampungan yang dialasi dengan plastik.
Proses tersebut berfungsi sebagai tempat penyimpanan kotoran yang telah diolah. Setelah rata dengan air, proses selanjutnya memasukkan adonan kotoran kedalam lubang. Lubangan ini yang akan memproses menjadi bio gas yang kemudian disalurkan kesebuah penampungan gas melalui selang. Gambar 2.1 http://www.indosiar.com/ragam/73885/bio-gas-dari-kotoran-ternak
Untuk kebutuhan memasak sehari-hari, Abdul Manif membutuhkan 20 kilogram kotoran ternak. "Meski dari kotoran ternak, bio gas yang saya bikin ini tidak bau sama sekali dan ini adalah salah satu cara untuk menghemat bahan bakar " ujar Abdul Manif
Keuntungan lainnya sisa limbah kotoran ternak yang telah diolah menjadi bio gas dapat digunakan sebagai pupuk tanaman. (Fauzi,2009).
Menurut Yaya, limbah biogas bisa langsung digunakan karena mengandung banyak unsur NPK, yakni nitrogen, fosfor, dan kalium. "Ini bagus. Ciri lainnya kalau sudah siap dipakai adalah warnanya hitam pekat dan tidak berbau.(Anonim,2008)

2. Andreas
Andreas yang orang biasa dikenal sebagai pencipta reaktor biogas, bagi orang yang sudah lama yang berkecimpung dalam usaha biogas.
Berbeda dengan yang dilakukan Andreas warga Ngawi, Jawa Timur. Beliau mencoba dengan peralatan yang lebih sederhana. Yaitu menggunakan plastik berukuran 250 mikron sebagai reaktor biogas. Atau kalau sulit dalam masalah pengukuranya menggunakan plastik bekas pupuk juga bisa.
GGambar 2.2
http://www.energi.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1124147846
Perlengkapan sederhana yang biasa digunakan oleh andreas dekat kandang sapi itu sebetulnya reaktor dan penampung biogas. Kotoran sapi yang sudah dicampur air dengan ukuran satu banding satu itu diubah menjadi gas. Gas itu dialirkan pada reaktor. Setelah menjadi gas kemudian dialirkan pada penampung gas. Melalui selang plastik, gas dialirkan lagi ke kompor gas di dapur untuk memasak.
Cerita itu berawal ketika Andreas, mempunyai rasa penasaran terhadap bau yang ditimbulkan dari kotoran ternaknya. Kemudian ia melakukan percobaan pada tahun 2000 pada saat ia masih duduk di bangku kuliah.
Namun, Andreas baru memasarkannya pada 9 April 2005 setelah menyempurnakan percobaan-percobaannya. Reaktor biogas dari plastik ini sebelumnya pernah menang dalam Lomba Kreativitas Mahasiswa tahun 2002 yang diadakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Sebenarnya Andreas sudah lama mengetahui bahwa kotoran sapi bisa dijadikan gas. Namun, kesempatan membuktikan hal tersebut baru kesampaian saat ia kuliah. Saking penasaran, ia membawa kotoran sapi yang sudah dicampur air dari sebuah peternakan. Kotoran sapi itu ia bawa dengan jeriken ukuran lima liter. Sampai di rumah kosnya , jeriken tetap ditutup agar terjadi fermentasi pada kotoran sapi. Setelah sebulan, jeriken dibuka dan di atas lubang jeriken dipasang plastik. Plastik langsung mengembang. Kemudian ia segera mencari pucuk bolpoin yang terbuat dari logam. Pucuk pulpen ini kemudian di tusukkan ke pada plastik dan keluarlah gas. Ia menyulutnya dengan korek api, ternyata benar, kotoran sapi bisa menjadi gas dan bisa di bakar.
Andreas terus memodifikasi peralatan dengan menggunakan uang bantuan dari teman- temannya. Percobaan demi percobaan ia lakukan untuk bisa menghasilkan reaktor dan penampung gas berharga murah dan berkapasitas mencukupi untuk kebutuhan rumah tangga. Sampai akhirnya, dari percobaan demi percobaan, ia menghasilkan reaktor dari plastik dengan tebal 250 mikron serta menciptakan kompor untuk jenis gas metana. (Yenti Aprianti,2005)




3.Iskak
Lain ladang lain belalang. Mungkin kira-kira seperti itulah pepatah yang tepat. Berbeda tempat berbeda cara yang dipakai. Seperti kisah dibawah ini. Iskak seorang warga Gang Arjuno, Jalan Pondok Empat Kelurahan Loktabat utara Kabupaten Demak. Berawal dari kegelisahanya begitu banyak limbah kotoran sapi yang di buang begitu saja.
Di rumah Iskak memang ada puluhan ekor sapi yang digemukkan. Setiap hari ada puluhan ton kotoran sapi yang dihasilkan. Dulu limbah itu dibuang begitu saja, atau sekadar dijadikan kompos atau pupuk kandang. Sekarang kotoran sapi ini bisa jadi barang berharga Bio gas sangat mudah diproduksi. Bahan dasarnya berupa kotoran sapi diaduk ke dalam drum. Komposisinya setengah drum diisi kotoran sapi sebanyak kira-kira tiga argo (kereta dorong yang biasa untuk mengangkut bahan bangunan).
Gambar 2.3
http://www.radmanblog.cn/files/imagecache/full_image/front_image/reaktor-biogas.jpg
Baru seperempatnya ditambahi air. Setelah komposisi itu terpenuhi, kotoran sapi dan air diaduk merata. Ampas kotoran dari rumput-rumputan yang belum halus oleh proses pencernaan di dalam perut sapi dipisahkan. Ini dilakukan agar tidak terjadi penyumbatan saat dimasukkan ke dalam reaktor.
Setelah dipastikan terpisah, campuran air dan kotoran sapi bisa ini dimasukkan ke dalam reaktor. Dulunya, di dalam reaktor itu diberikan obat semacam perangsang pertumbuhan gas yang memang telah potensial ada terkandung di dalam kotoran sapi. “Tapi itu hanya sekali pakai saja waktu pertama. Selanjutnya ya mudah saja seperti ini. Kotoran sapinya diulet dengan air dan dimasukkan ke dalam reaktor,” ungkap Iskak, sambil memperagakan cara pembuatan bio gas.
Di dalam reaktor, proses pembuatan gas itu terjadi secara alami. Gas ini pun langsung dapat dialirkan ke kompor melalui pipa penghubung reaktor dan kompor dan nyala api pun bisa didapatkan. Kompor siap dipakai. Dengan campuran sebanyak satu drum ini, kompor bisa bertahan selama seharian penuh. Bahkan tidak mati walau dipakai terus menerus selama empat jam lamanya, jika bahan bakunya melimpah dan reaktor terisi terus.(Anonim,2008)
3. Slamet
Berbeda juga dengan yang di lakukan Slamet 37, warga dusun Mendek di Desa Srigading Kabupaten Malang. Seperti daerah pedesaan lain di Indonesia, Srigading sangat terpukul dengan naiknya harga minyak tanah dan untuk memasak kini mereka terpaksa menggunakan kayu bakar. Slamet dan istrinya tak punya pilihan kecuali mendaki tebing-tebing terjal Pegunungan Tengger demi mendapatkan ranting kering untuk memasak. Bukan hanya lelah yang didapat, tuduhan sebagai perambah hutan yang merusak lingkungan sering dialamatkan kepada mereka.
Gambar2.3 http://www.esp.or.id/2008/01/02/biogas-pertama-srigading-slamet-sulap-kotoran-sapi-jadi-bahan-bakar/
Sehingga mengantarkan Slamet ke Ide kreatifnya. Yaitu dengan menyulap kotoran sapi yang banyak di Mendek menjadi biogas. Kemudian ia memulai kontruksi biodigester yang terdiri dari dua bak untuk memproses kotoran sapi menjadi biogas. Untuk menghasilkan biogas yang cukup dipakai memasak selama berhari-hari, Slamet memasukkan 40 kilogram kotoran dari dua ekor sapi miliknya ke dalam bak penampung setiap dua hari sekali. Kotoran tersebut kemudian dicampur dengan air dan didiamkan selama 6 hari sampai membusuk. Campuran air dan kotoran sapi ini akan memproduksi gas yang dihubungkan ke bak kedua dengan pipa PVC. Sebuah pipa yang lain akan mengalirkan gas dari bak penampung ke kompor, dan biogas pun siap dipakai untuk.
Enam hari setelah menyelesaikan kontruksi biodigesternya,Slamet berhasil menyalakan api kompor gasnya yang mennggunakan gas alternatif.(Dhina,2008)

4. Abdul Majid
Abdul Majid(41) dan istrinya Ai’ Sa’adah warga Sukamaju, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Mahal harga BBM juga mendorong mereka untuk mencari energi alternatif. Mereka memanfaatkan kotoran sapi sebagi energi alternatif.
Cara membuat biogas tidaklah rumit, yakni satu ember kotoran sapi diaduk dengan satu ember air dalam sebuah drum. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam sebuah bak berukuran satu kali empat meter, yang telah dibungkus dengan plastik.
Gambar 2.4
Biogas dari kotoran sapi
http://trobos.com/images/artikel/April%202009/agriternak-1.jpg

Kotoran sapi yang mengendap, kemudian akan menghasilkan biogas dan bisa langsung digunakan. Gas yang sudah dalam bak penampungan tersebut, kemudian dialirkan dengan menggunakan selang menuju reaktor penampung gas berupa plastik besar.
"Dari penampung tersebut, langsung dialirkan ke kompor khusus yang bisa mengeluarkan api biru seperti dari kompor gas elpiji. (Anonim,2007)
Biogas selain di produksi dari kotoran sapi, biogas juga bisa di produksi dari limbah-limbah lain. Seperti sampah-sampah organik,limbah tepung tapioka bahkan sampai kotoran manusia juga bisa di buat biogas.














BAB V
Berbagai bahan biogas
1. Biogas dari tinja
Berdasarka penelitian Kholiq di pusat Penelitian Ilmu pengetahuan Dan Teknologi(Puspitek) Serpong Tangerang Jawa Barat. Energi terbarukan biogas tidak hanya dapat diproduksi di pedesaan dengan bahan baku limbah organik atau kotoran hewan, tetapi juga berpeluang digunakan di wilayah perkotaan.

Gambar 5.1
http.geogle.gambar.co.id
Biogas di perkotaan bisa didapatkan melalui pengelolaan kotoran manusia secara terpadu. Dari 3.000 kepala keluarga di perkotaan dapat dihasilkan 225 meter kubik biogas atau setara dengan 103,5 kg elpiji setiap hari, yang dapat digunakan untuk memasak 207 keluarga
Biogas dari kotoran manusia dihitung, dengan asumsi 1 keluarga terdiri atas 5 orang yang masing-masing menghasilkan kotoran 0,3 kilogram per hari. Dari 3.000 keluarga terkumpul 4.500 kg. Satu kilogram kotoran manusia menghasilkan 0,05 meter kubik biogas. Jadi, total bisa dihasilkan 225 meter kubik biogas, setara dengan 103,5 kg elpiji per hari.(Abduh,2009)





2. Biogas briket sampah
Seperti yang dijelaskan sebelumnya. Biogas juga bisa di buat dari limbah organik. Misal dari briket sampah. Energi yag paling mudah diciptakan adalah briket sampah. Bahan bakunya yang hanya sampah organik seperti kayu-kayu sisa ,daun-daun kering , makanan sisa dan, kertas. Cara pembuatanya mirip pembuatan arang. Bahan-bahan itu dibakar sampai berbentuk arang berwarna hitam pekat.

Gambar 5.2
ajidvanzeta.wordpress.com
Saat bara api merata ke seluruh bagian bahan, segera disiram air. Hasil berupa arang itu ditumbuk menggunakan alat penumbuk atau martil. Kemudian ditambahkan daun-daun tanaman segar yang lunak dan tinggi kandungan air.

Gambar 5.3
Pengelolaan sampah
http://foto.detik.com/readfoto/2008/05/06/150720/934848/473/3

Daun-daunan itu dapat diambil dari sisa sampah pasar atau sayuran seperti bayam, kangkung, atau sawi yang sudah terbuang. Persentase komposisi bahan pembuatan briket organik adalah 80% arang sampah organik kering dan campuran daun segar. Jadi, bila di campurkan 800 g sampah organik membutuhkan 200 g daun segar. Setelah tercampur rata, adonan dicetak dengan ukuran dan bentuk sebagai briket. Briket itu dijemur di bawah sinar matahari sampai kering dengan cara meletakkan dan menganngkatnya di telapk tangan. Briket kering terasa ringan dan jelaga di permukaan tidak terlalu mengotori telapak tangan.
Langkah-langkah itu dilakukan oleh warga Kampung Panoram,Purwakarta,Jawa Barat,guna membuat bahan bakar kompor untuk memasak.(Vina,2008)

3. Biogas dari limbah tapioka
Penghematan energi listrik maupun fosil dengan memanfaatkan limbah secara besar-besaran dilakukan Budi Acid Jaya Tbk di Way Abung, Lampung. Produsen tepung tapioka terbesar di Indonesia itu melakukan penghematan biaya produksi Sebesar 18,2 miliar/tahun. Pabrik yang memproses 800 ton singkong /hari itu mengolah 2800 m3 limbah/ hari untuk menghasilkan energi listrik sebesar 2,2 megawatt. Gambar 5.3
Pengelolaan limbah tapioka
http://wb5.indo-work.com/pdimage/58/s_775858_ssca0040.jpg
Sebelumnya, limbah hasil proses produksi tepung tapioka itu hanya diolah dengan mengendapkannya di kolam-kolam agar kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) berkurang. Butuh banyak kolam besar-besar untuk menampung limbah itu.
Seiring peningkatan harga solar dan tarif dasar listrik,Budi Acid Jaya melakukan inovasi berupa pendirian instalasi biogas berbahan limbah tapioka. Ternyata pengolahan limbah itu tak cuma menghasilkan listrik untuk menajalani seluruh produksi.




4. Biogas dari Limbah Ikan
Selain bahan-bahan diatas, perut ikan atau jeroan, kepala,ekor,dan tulang juga potesial digunankan sebagai bahan untuk membuat biogas. Bahkan ikan busuk sekalipun. Potensi limbah itu sangat besar. Sebagai gambaran volume limbah pengalengan ikan Di Muncar, Kabupaten Banyuwangi , Jawa Timur saja mencapai 50-60 ton perbulan.
Gambar 5.4
Pemanfaaan limbah ikan
http://wb4.itrademarket.com/pdimage/61/s_1479961_babysardine043.jpg
Ir Menurut Kristio Budiasmoro Msi,limbah ikan kaya akan minyak. Ia memanaskan hinggga 600C. Lantas ia menambahkan pelarut semipolar dan campuran asam kuat sulfat serta air aki hingga di peroleh bilangan asam.
Randemen limbah ikan mencapai 68%, kata Kristio . Itu artinya untuk 1 liter minyak bakar hanya perlu 1,6 kg limbah ikan. Biaya untuk menghasilkan 1 liter minyak limbah ikan Rp 2.167-Rp 3.500
Jenis bahan organik yang di proses sangat mempegaruhi produktivitas sistem biogas, disamping parameter lain, seperti suhu digester, derajat keasaman(pH),tekanan struktur bahan isian (Kehomogenan)dan kelembapan udara.
Pertanyaan yang mendasar adalah berapa modal yan diperlukan untuk membuat instalasi biogas? Untuk tetap kontinu untuk itu perlu di bahas pada bab selajutnya














BAB VI
Hikmah dan Manfaat dari Pembuatan Biogas
Gambar
Pembangkit listrik biogas dari kotoran sapi
http://ariefwahyuw.wordpress.com/2009/10/23/pembangkit-listrik-biogas-dari-kotoran-sapi/
Dengan biogas bisa di petik berbagai manfaat, antara menehasilkan gas, turut menjaga keletarian lingkunga,mengurangi, polusi, meningkatkan kebersihan dan kesehatan, serta menghasilkan pupuk organik yang bermutu. Dibandingkan dengan bahan bakar fosil dan pemanenan energi dari kayu bakar, efisiensi biogas jauh lebih tinggi. Efisiensi panenan energi kayu bakar dan bahan bakar fosil hanya 20%-30% sedangkan efisiansi panenan biogas 30% -40%



Tidak seperti, pembakaran bahan bakar fosil yang menghasikan karbondioksida(CO2) yang memberikan sumbanga terhadap pemanasan global. Biogas justru memberikan perlawanan terhadap efek pemanasan global dengan tiga cara. Pertama, biogas pengganti dari bahan bakar fosil untuk penerangan, kelistrikan, memasak,dan pemanasan.

Gambar 7.2
Berbagai pemanfaatan macam
megtech.net
Kedua gas methana yang dihasilkan secara alami oleh kotoran yang menumpuk merupakan gas penyumbang terbesar pada pemansan global, bahkan lebih besar dibandingkan karbondioksida. Pembakaran methana pada biogas mengubah methana menjadi karbondioksida, sehingga mengurangi gas methana di udara. Ketiga, dengan lestarinya hutan maka karbondioksida yang ada udara akan diserap oleh hutan. Setelah melalui proses fotositesis aka dihasilkan oksigen yang melawan pemanasan global.










BAB VII
Seberapa Efisienkah Pembuatan dan Penggunaan Biogas

Judul pada bab ini akan sangat tepat bilamana kita akan membuat atau menggunakan suatu yang baru bagi kita. Dan tentunya setelah kita mengetahui semua tentang biogas dan mengetahui kegunaannya adalah berapa modal yang diperlukan untuk instalasi biogas? Untuk tipe tetap kontinu, sumur pencerna dan penampung gas menjadi satu, sedangkan pengisian bahan organik kontinu denagan kapasitas 3,5m3 biayanya mencapai 8,1 juta.

Gambar7.1
Instalasi biogas
http://wb8.itrademarket.com/pdimage/10/689010_biogastuban.jpg

Cukup mahal, tetapi dengan umur pemakaian 30-40 tahun, sebenarnya energi biogas tergolong murah. Katakanlah umur ekonomis 30 tahun, biaya perhari untuk setiap keluarga hanya Rp 750. Coba bandingkan dengan harga minyak tanah yang rata-rata Rp 2.700/liter. Dengan konsumsi minyak tanah keluarga rata-rata 2-3 liter / hari berarti setiap keluarga membelanjakan Rp 5.400- Rp 7.000/hari. Padahal instalasi biogas dengan kapasitas 3,5m3 ini bisa mencukupi kebutuhan lima keluarga
Kini, tersedia teknologi biogas murah meriah yang dikembangkan oleh balai diklat peternakan , Dinas Peternakan Jawa Barat, di kecamatan Lembang Kabupaten Bandung. Namanya, kompor biogas berbahan bakar aneka limbah cair. Instalasi kompor biogas dirancang untuk skala rumah tangga. Masyarakat yang tidak memiliki ternak sapi pun dapat menggunakan dengan mengisi bahan limbah dari kotoran ayam, puyuh ampas tahu dan tempe atau sampah organik
.
Atau kita buat sendiri dengan biaya yang terjangkau.
Biaya
Plastik polietilen lebar 1,5m17 buah Rp 170.000
PVC ½ inci 1 batang Rp 15.000
PVC 6 inci, 1 batang Rp 30.000
Lem karet, 1 kaleng Rp 10.000
Lem PVC, 1 tube Rp 10.000
Lakban, 1 buah Rp 15.000
Keran gas, 1 buah Rp 25.000
Selang drat pipa T, 1 buah Rp 2.000
Selang palstic ½ inci 10 m Rp 30.000
Shock drat pipa, pasang Rp 4.000
Karet ban dalam selebar 20 cm3, 1 lembar Rp 2.000
Tali karet ban dalam, 8 helai Rp 4.000
Clamp selang, 5 buah Rp 2.500
Kompor gas,1 buah Rp 250.000
Total pengeluaran Rp 569.000

Produksi biogas
Dalam sehari 2, 4 m3 setara 1,49 liter minyak tanah @3000 Rp 4.470
Daalm sebulan 72 m3 setara 44,54 liter minyak tanah @ 3000 Rp 133. 620
Dalam setahun 864m3 setara 535,68 liter minyak tanah @3000 Rp 1.607.040
Kebutuhan minyak tanah
Dalam sehari,2 liter @Rp 3000 Rp 6.000
Dalam sebulan, 60 liter @ Rp 3000 Rp 180.000
Dalam setahun, 720 liter @ Rp 3000 Rp 2.160.000


Keuntungan dari ppembuatan biogas
Dalam sebulan, Rp 133.620-Rp 47.458 Rp 86.162
Dalam setahun, Rp 1. 607.040-Rp 569.000 Rp 1.037.540


Penghematan
Dalam sehari Rp 6000-1.559 Rp 4.441
Dalam sebulan Rp 180.000- Rp 47.458 Rp 132.541
Dalam setahun, Rp 2.160.000-Rp 569.000 Rp 1.591.000
Catatan : Peralatan untuk pembuatan biogas disusutkan selama 1 tahun



Daftar pustaka
Prihandana Rama, Hendroko Roy.2007. Energi Hijau Pilihan Bijak Menuju Negeri Mandiri Energi. Penebar Swadaya: Jakarta
Trubus, Juni 2008
http://hanya-kutipan.blogspot.com/2009/05/membuat-biogas-dari-kotoran-sapi.html
www.binadesa.or.id/index2.php?option=com_content&do...1
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081122211931AAEdIlR
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080517050451AAsi8oH
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080514213332AAbGS8U
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080422192154AAQl0ZM
http://abduh38.wordpress.com/2009/01/09/potensi-biogas-dari-kotoran-hewan-kotoran-manusia-dan-limbah-industri-bioetanol/
http://www.jogloabang.com/content/biogas-dari-kotoran-manusia
http://www.indosiar.com/ragam/73885/bio-gas-dari-kotoran-ternak http://www.alpensteel.com/article/67-107-energi-bio-gas/1809--energi-biogas-dari-kotoran-sapi.html
http://eprints.undip.ac.id/523/
http://ariefwahyuw.wordpress.com/2009/10/23/pembangkit-listrik-biogas-dari-kotoran-sapi/
http://jingkiinstitute.org/teknologi-tepat-guna/energi-alternatif/2-nilai-ekonomis-energi-biogas-dari-kotoran-ternak.html
http://sains.kompas.com/read/xml/2009/11/01/20535377/biogas.kotoran.manusia.terus.dikembangkan
http://www.esp.or.id/2008/01/02/biogas-pertama-srigading-slamet-sulap-kotoran-sapi-jadi-bahan-bakar/
http://klasterhortidemak.wordpress.com/2008/05/11/biogas-kotoran-sapi-jadi-energi-alternatif-dua-tahun-tak-beli-minyak-tanah/
http://www.energi.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1124147846
http://www.kapanlagi.com/h/0000203889.html
http://www.pustaka-deptan.go.id/inovasi/kl060212.pdf

http://www.radmanblog.cn/files/imagecache/full_image/front_image/reaktor-biogas.jpg
onlinebuku.com
ahmad-fajar.web.ugm.ac.id
http://img2.travelblog.org/Photos/5385/41427/f/217632-Biogas-project-in-Licey-al-Medio-0.jp
http://djunaedird.files.wordpress.com/2008/05/biogas_kompas.jpg
http://www.sragen.go.id/berita/images/news/Bio%20Gas.jpg
http://sgp.undp.org/intranet//img/projects/9238/SVS_Biogas.jpg
http://www.megtech.net/wp-content/uploads/2009/02/biogas-di-desa-sukarare-300x276.jpg
http://wb8.itrademarket.com/pdimage/10/689010_biogastuban.jpg
http://trobos.com/images/artikel/April%202009/agriternak-1.jpg
http://foto.detik.com/readfoto/2008/05/06/150720/934848/473/3/
http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://foto.detik.com/images/content/2008/05/06/473/gas_3B.jpg&imgrefurl=http://foto.detik.com/readfoto/2008/05/06/150720/934848/473/3/&usg=__veX21hL65NRNzVPe-y5ypY2KC_A=&h=373&w=450&sz=36&hl=id&start=4&um=1&tbnid=mviRAstMmsxbeM:&tbnh=105&tbnw=127&prev=/images%3Fq%3Dbiogas%2Bdari%2Btinja%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-a%26channel%3Ds%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26sa%3DG%26um%3D1



















Biografi
Faradlina mufti, kelahiran ponorogo 22 agustus 1989. Pendididkan sekoladh dasar di SD negeri maron, sekolah menengah pertama di SMP Badegan 1.sekolah menengah atas di SMA Muahammadyah 1 ponorogo. Dan sekarang sedang menempuh bangku kuliah di jurusan Biologi Fakultas Saitek Univeristas Islam Negeri Sunan kalijaga Yogyakarta. Selain itu Penulis aktif dalam organisasi pecinta alam(BIOLASKA), Ikatan Mahasiswa Muhammdiyah(IMM) komfak saitek.

0 komentar: